Saat membeli kripto di exchange lokal seperti Triv, Nanovest, atau Bybit Indonesia, koin yang kamu beli tersedia karena ada penjual di sisi lain. Di DEX (bursa terdesentralisasi), koin itu datang dari pengguna yang menyetor tokennya ke liquidity pool, dan mereka mendapat bagian dari fee setiap transaksi.
Halaman ini membahas liquidity pool untuk kamu yang sudah pernah membeli kripto, tapi belum pernah memakai DEX. Pembahasannya mulai dari cara kerja dan contoh hitungan fee, impermanent loss, beda dengan yield farming, sampai cara memilih pool.
⚠ Peringatan risiko
Menyetor token ke liquidity pool memiliki risiko impermanent loss dan rug pull (jika salah pilih token).
Daftar Isi:
Apa Itu Liquidity Pool?
Liquidity pool adalah kumpulan token yang disetor pengguna ke smart contract di DEX, supaya trader lain bisa menukar (swap) token tanpa menunggu pembeli atau penjual.
Pool biasanya berisi sepasang token, misalnya SOL dan USDC. Pengguna yang menyetor token ke pool disebut liquidity provider (LP), dan imbalannya berupa bagian dari fee setiap swap.
Cara ini berbeda dengan exchange lokal yang memakai order book, tempat pembeli dan penjual dicocokkan satu per satu. Di DEX, trader bertransaksi langsung dengan isi pool.
Sebagian besar DEX di Solana, termasuk yang dibahas di panduan trading di Solana, memakai liquidity pool. Istilah ini juga berbeda dengan liquidity pool di analisis teknikal forex, yang artinya area tumpukan order atau stop loss di grafik.
Cara Kerja Liquidity Pool
Harga di liquidity pool ditentukan oleh rumus otomatis yang disebut AMM (automated market maker). Rumus ini menghitung harga dari jumlah kedua token yang ada di dalam pool.
a) Rumus x × y = k
Rumus AMM yang paling umum adalah x × y = k. Di rumus ini, x adalah jumlah token pertama, y jumlah token kedua, dan k hasil kalinya yang harus tetap sama setiap kali ada swap.
Berikut contoh pool SOL-USDC sebelum dan sesudah ada trader yang membeli SOL senilai 1.000 USDC (tanpa fee):
| Isi pool | Sebelum swap | Sesudah swap |
|---|---|---|
| SOL | 100 | 90,91 |
| USDC | 10.000 | 11.000 |
| x × y | 1.000.000 | 1.000.000 |
| Harga 1 SOL di pool | $100 | $121 |
Dari swap ini, trader mendapat 9,09 SOL dengan harga rata-rata $110 per SOL, bukan $100. Selisih ini disebut slippage, karena setiap SOL yang keluar membuat sisa SOL di pool makin mahal.
Makin besar isi pool-nya, makin kecil pergeseran harga untuk swap yang sama.
Kalau harga di pool jadi berbeda dengan harga pasar, trader lain akan membeli atau menjual di pool sampai harganya sama lagi. Cara ini disebut arbitrase, dan jadi penyebab impermanent loss yang dibahas di bawah.
b) Dari Mana LP Dapat Fee
Setiap swap di pool dikenai fee, misalnya 0,25% dari nilai transaksi. Fee ini dibagi ke semua LP sesuai porsi modalnya di pool.
Sebagian protokol juga mengambil potongan dari fee tersebut, misalnya Meteora sebesar 10% di pool DLMM standar. Berikut contoh hitungannya kalau seluruh fee masuk ke LP:
- Pool berisi $1.000.000 dengan volume swap $500.000 per hari. Dengan fee 0,25%, fee yang terkumpul $1.250 per hari.
- Modalmu $200, atau 0,02% dari isi pool.
- Bagianmu $0,25 per hari, atau sekitar $7,5 dalam 30 hari kalau volume dan porsimu tetap.
Volume swap naik turun setiap hari, jadi fee yang kamu dapat juga ikut berubah. Karena itu, APR yang tampil di DEX adalah hitungan dari fee yang sudah lewat, bukan janji.
c) LP Token dan Posisi LP
LP token adalah bukti bagianmu di pool. Token ini dipakai untuk menarik kembali modal beserta fee-nya, dan bisa juga disetor lagi ke farm.
Tidak semua DEX memakai LP token. Misalnya, posisi di DAMM v2 Meteora berbentuk NFT, sedangkan posisi DLMM tidak menghasilkan LP token sama sekali.
Jenis Liquidity Pool
Liquidity pool di crypto umumnya terbagi tiga jenis, yaitu pool AMM biasa, stableswap, dan concentrated liquidity. Berikut perbedaan ketiganya:
| Jenis | Cara kerja | Cocok untuk | Contoh DEX |
|---|---|---|---|
| AMM biasa | Modal tersebar di semua harga (rumus x × y = k), tidak perlu dipantau | LP pasif | Uniswap v2, Raydium (pool standar) |
| Stableswap | Rumus khusus untuk dua token yang harganya hampir sama, slippage-nya kecil | Pasangan stablecoin (USDC-USDT) | Curve |
| Concentrated liquidity | Modal dipusatkan di rentang harga pilihanmu, fee per dolar lebih besar, berhenti dapat fee kalau harga keluar rentang | LP aktif yang siap memantau posisi | Orca, Raydium CLMM, Meteora DLMM |
Di Solana, salah satu contoh concentrated liquidity adalah pool DLMM di Meteora. Modalnya dibagi ke banyak titik harga, dan fee-nya ikut naik saat harga bergejolak.
Cara kerja dan langkah membuka posisinya bisa kamu baca di panduan Meteora. Untuk DEX lain seperti Raydium dan Orca, cek daftar DEX untuk LP di Solana.
Impermanent Loss dan Cara Menghitungnya
Impermanent loss adalah selisih nilai antara token yang disetor ke pool dengan token yang cukup disimpan di wallet. Selisih ini muncul saat harga salah satu token berubah.
Penyebabnya adalah arbitrase tadi. Saat harga SOL naik, trader membeli SOL dari pool sampai harganya sama dengan pasar, jadi pool-mu otomatis menjual SOL.
Sebaliknya, saat harga SOL turun, pool-mu otomatis membeli SOL dengan USDC yang ada di dalamnya. Berikut contohnya:
- Kamu menyetor 1 SOL ($100) dan 100 USDC, totalnya $200.
- Harga SOL naik jadi $200. Isi posisimu sekarang 0,71 SOL dan 141,42 USDC, nilainya $282,84.
- Kalau tadi cukup disimpan, nilainya 1 SOL ($200) ditambah 100 USDC, yaitu $300. Selisih $17,16 (5,7%) inilah impermanent loss.
Dengan kurs sekitar Rp17.900 per dolar, selisih itu setara kurang lebih Rp307 ribu.
Disebut impermanent (sementara) karena selisihnya hilang kalau harga SOL kembali ke $100 saat kamu menarik modal. Tapi kalau modal ditarik saat harga masih $200, selisih itu jadi kerugian permanen.
Besarnya impermanent loss tergantung seberapa jauh harga bergerak, bukan arahnya. Harga turun 50% (jadi setengah) sama jauhnya dengan naik 2× (jadi dua kali lipat), sehingga selisihnya sama-sama 5,7%.
Berikut simulasinya dengan modal $200 tadi. Geser harga SOL atau klik tombolnya untuk melihat selisihnya.
Kalau modal $200 tadi mendapat fee $0,25 per hari seperti contoh di atas, butuh sekitar 69 hari untuk menutup impermanent loss $17,16. Jadi, LP baru untung kalau fee yang terkumpul lebih besar dari impermanent loss.
Harga turun 90% adalah kasus yang sering terjadi di pool memecoin. Pool terus membeli token yang jatuh dengan USDC-mu, sehingga modal $200 tinggal sekitar $63.
Di pool concentrated liquidity, efek ini lebih besar lagi karena modalnya terkumpul di rentang harga yang sempit.
Beda Liquidity Pool, Yield Farming, dan Staking
Yield farming adalah cara mencari imbal hasil tambahan dengan menyetor aset ke protokol DeFi, misalnya menyetor LP token ke farm untuk mendapat token reward.
Reward farm biasanya dibayar dalam token milik protokol itu sendiri. Kalau harga token reward-nya jatuh, APR yang tadinya tinggi ikut turun dengan cepat.
Sedangkan staking adalah menyetor satu token, misalnya SOL, untuk ikut mengamankan jaringan dan mendapat reward. Untuk info staking SOL yang lebih lengkap, cek bagian staking dan lending di Solana.
Berikut perbandingan liquidity pool, yield farming, dan staking:
| Liquidity pool | Yield farming | Staking | |
|---|---|---|---|
| Yang disetor | Sepasang token | LP token atau token tertentu | Satu token (misalnya SOL) |
| Sumber imbal hasil | Fee swap | Token reward (ditambah fee kalau pakai LP token) | Reward jaringan |
| Risiko utama | Impermanent loss, rug pull | Harga token reward jatuh, risiko smart contract berlapis | Harga token turun |
| Perawatan | Sedang (tinggi di pool concentrated) | Tinggi, sering pindah farm | Rendah |
Risiko Liquidity Pool Selain Impermanent Loss
Selain impermanent loss, ada empat risiko lain yang perlu kamu tahu sebelum jadi LP:
- Rug pull. Di pool memecoin, pembuat token bisa menarik likuiditas atau menjual habis tokennya, sehingga harganya jatuh mendekati nol. Sebelum menyetor, ikuti dulu cara cek token sebelum membeli.
- Celah smart contract. Dana di pool dipegang oleh program. Audit mengurangi risikonya, tapi bukan jaminan.
- Keluar rentang. Di pool concentrated liquidity, posisimu berhenti dapat fee selama harga berada di luar rentang.
- Situs palsu. Buka DEX lewat alamat resmi atau bookmark, jangan dari link di DM atau iklan.
Perlu diingat juga, liquidity pool di DEX tidak diawasi OJK dan tidak dijamin LPS.
Cara Memilih Liquidity Pool
Memilih liquidity pool berarti menimbang fee yang bisa kamu dapat dengan risiko token di dalamnya. Berikut hal yang perlu dicek sebelum menyetor token:
- Pasangan token. Pool SOL-USDC atau sesama stablecoin lebih aman dari rug pull dan impermanent loss besar dibanding pool memecoin.
- Fee dibanding likuiditas. Fee datang dari volume swap, jadi pool yang ramai dengan total nilai token (TVL) yang wajar memberi fee lebih besar per dolar. Di Meteora, angka ini tampil sebagai kolom 24h Fee/TVL.
- Tarif fee. Fee tinggi cocok untuk pasangan yang harganya mudah bergejolak, sedangkan fee rendah untuk pasangan yang stabil.
- Umur pool dan likuiditas terkunci. Pool yang baru dibuat dan likuiditasnya tidak dikunci lebih rawan rug pull.
- APR yang terlalu tinggi. APR ratusan persen biasanya datang dari volume sesaat atau token reward, bukan dari fee yang stabil.
Cara Mulai Jadi Liquidity Provider
Untuk mulai jadi LP di Solana, kamu butuh SOL di wallet sendiri, karena DEX tidak menerima rupiah. Berikut langkah singkatnya:
- Beli SOL di exchange lokal, misalnya Triv, Nanovest, atau Bybit Indonesia.
- Kirim SOL ke wallet Phantom lewat jaringan Solana. Kalau belum punya wallet, ikuti cara menyiapkan wallet Phantom.
- Pilih pool di DEX, lalu setor tokennya. Contoh langkah lengkapnya dengan pool SOL-USDC ada di cara buka posisi DLMM di Meteora.
Bonus saldo Ethereum
Pakai kode ini saat daftar · transaksi min. Rp150 ribu → spin s/d 0,1953 ETH
Triv berizin & diawasi OJK
Jadi, itulah penjelasan liquidity pool di crypto, mulai dari cara kerja sampai risikonya. Secara garis besar, LP mendapat fee dari setiap swap, sedangkan impermanent loss dan rug pull bisa mengurangi modalnya kalau salah pilih pool.
Kalau belum punya akun untuk membeli SOL, kamu bisa pilih salah satu dari daftar aplikasi trading crypto terbaik, misalnya Triv, Nanovest, atau Bybit Indonesia.